Wednesday, July 29, 2015

Jokowi Presiden Terlemah dalam Sejarah Indonesia





Joko Widodo juga dinilai sebagai presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. Hal ini terjadi bukan saja karena Jokowi tidak memiliki modal dukungan politik yang cukup, melainkan juga karena ketidakmampuan pemerintahannya menghadapi situasi ekonomi global yang melemah.



Demikian pandangan analis politik dari Northwestern University, Prof. Jeffrey Winters seperti dikutip Wall Street Journal.



"Jokowi presiden terlemah sejak masa Gus Dur. Dia ditinju oleh tokoh-tokoh politik yang tidak peduli dia jatuh," ujar Jeffrey Winters.



Hal yang paling menonjol yang dicatat WSJ adalah hubungan Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sangat kompleks. Walaupun Mega tidak memiliki posisi formal dalam pemerintahan, tetapi dia sangat mempengaruhi pemerintahan Jokowi.






Prof. Jeffrey Winters

Di sisi lain, walaupun kini menjadi partai penguasa, setelah selama satu dekade sebelumnya menjadi oposisi, pada faktanya di parlemen PDIP hanya memimpin koalisi kecil.



Orang-orang yang dekat dengan Mega dan Jokowi mengatakan bahwa keduanya kerap bertemu, dan Jokowi sering menerima saran dari Mega.



Beberapa investor asing keberatan dengan hal ini. Menurut mereka, ini memperlihatkan betapa Jokowi terikat pada gagasan nasionalisme yang membuat investasi asing menjadi sulit di Indonesia.



Selain Mega, tokoh politik lain yang saran-sarannya kerap didengarkan Jokowi adalah Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto.



Menurut Jeffrey Winters, kesalahan utama Jokowi karena bergerak terlalu cepat dari seorang walikota kota kecil menjadi pemimpin negara besar seperti Indonesia.



"(Jokowi) membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk memilah siapa pemain politik pada level nasional, bagaimana mereka menjalin jaringan, apa agenda mereka dan bagaimana integritas mereka," ujar Jeffrey Winters lagi.



Ekonom dari Standard Chartered, Eric Sugandi, masih seperti dikutip WSJ mengatakan, bila Jokowi menghabiskan waktu terlalu banyak untuk melakukan pekerjaan rumah itu, maka dia terancam kehilangan kredibilitas.



"Saya rasa market sedang menunggu realisasi janji-janji Jokowi," ujarnya.